REUNI

Jumat, 20 Maret 2009

PAGE 23

Di saat Xandra memesan menu untuk Vena, Andari menginjak kakinya.

Katanya mau PDKT.” Serang Andari dengan suara dipelankan. “Kok malah diam.”

Duh mbak, gimana caranya? Saya harus ngomong apa?” Vena tak menyembunyikan kebingungannya.

Andari mengurungkan niat menjawab pertanyaan Vena ketika melihat Xandra telah kembali ke kursinya.

Pelayan datang mengantarkan pesanan Andari.

Andari sengaja menyibukkan diri dengan makanannya dan membiarkan Vena mengumpulkan keberanian memulai percakapan ringan dengan Xandra. Apa yang ditunggu-tunggunya tak juga terjadi. Vena malah diam seribu bahasa.

Ven, sekali-sekali main ke rumah dong.” Xandra memecah keheningan di antara mereka bertiga. Dia menyendokkan kuah Tom Yam ke atas nasinya. “Kamu sering main ke sini? Jarak dari Prambors kan jauh. Atau ada janjian ya?”

Vena melirik Andari yang menunggunya memberi sebuah jawaban. Dia mengalihkan pandangannya pada Xandra.

Ng..ada janji ya. Sama mama kamu.” Jawabnya setengah mantap. Dia merasa itu jawaban yang terlalu bodoh dan dibuat-buat. Jelas itu tak mungkin. Vena dan Andari tak pernah bertemu untuk membicarakan pekerjaan di luar kantor Vena. Kepalanya ditundukkan untuk menghindari tatapan gemas Andari.

Oh.” Xandra menatap ibunya yang balas menatap dengan bingung. “Berarti semalam Vena yang Mama bilang mau makan malam sama kita? Karena semalam ga jadi datang lalu diganti hari ini. Begitu, kan?” Ditariknya kesimpulan sendiri.

Andari tak menjawab. Dia menambahkan kecap ke mangkuk soto dan sambal. Dia benar-benar tak mau ikut campur. Biar saja Xandra dan Vena yang masuk ke proses itu. Sebagai orang tua tugasnya cukup mempertemukan kedua anak manusia tanpa mengklaim punya andil lain. Sudah dilakukannya. Dia tahu Vena hanya butuh sedikit waktu untuk beradaptasi dengan Xandra. Vena yang sebenarnya tidaklah pemalu, bahkan sangat percaya diri. Terbukti dia berani langsung mendekati Andari untuk mendekati Xandra tak seperti anak muda lain yang suka main kucing-kucingan.

Setelah makan siang Vena berpamitan pada Andari dan Xandra. Dia tidak mau cepat-cepat berlalu dari sana namun sebuah telfon penting dari kantor TV mengharuskannya pergi. Sepertinya ada masalah yang harus ditanganinya langsung.

Andari dan Xandra pun meninggalkan foodcourt menuju Carrefour untuk membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari. Mereka sengaja memisahkan jalan agar tak perlu mendatangi semua rak dan rawan tergoda membeli barang-barang lain. Xandra menuju bagian alat perawatan wajah. Kapas dan bedaknya sudah menipis. Sementara Andari memutuskan untuk memulai dari bagian buah dan sayur-sayuran.

Berbelanja di tempat umum bagi seorang publik figur seperti Andari membuatnya harus siap terusik dengan segala permintaan penggemarnya, mulai dari bersalaman, foto bersama, sampai mendengar serentetan pujian yang kedengarannya terlalu berlebihan. Itu masih lebih lumayan ketimbang orang yang memaksa meminta nomer HP. Dia harus sabar menolak dengan halus.